Iklan

Wednesday, March 12, 2025, March 12, 2025 WIB
Last Updated 2025-03-12T05:52:51Z
Lombok TimurPeristiwa

Film Karya Pemuda Lombok "The Vengeance of Seher" Dari Produksi Puluhan Juta Hasil Patungan Hingga Tembus Ratusan Ribu Tayang dalam Sehari

 

Poto : Isitimewa (Salah satu adegan dalam Film The Vengeance of Seher)


Headline NTB (Lombok Timur) - Film "The Vengeance of Seher" yang disutradarai oleh Gagas Fagiara Gamarsese dan diproduksi oleh Lenteng Tedes, kini tengah menjadi perbincangan di kalangan masyarakat, khususnya di Pulau Lombok. Baru sehari tayang di YouTube Lenteng Tedes, film ini sudah berhasil menembus ratusan ribu penonton, membuktikan antusiasme yang tinggi dari para penikmat film lokal.


Film ini mulai tayang pada 11 Maret 2025, dan kini, di hari pertama penayangannya, telah mencapai ratusan ribu tayangan.


Menurut Oktora Panjisswara (Panji), salah satu tim produksi film tersebut, film ini adalah hasil kerja sama tim tanpa divisi yang terstruktur. Seluruh aspek, mulai dari skrip hingga dialog, dipikirkan bersama-sama oleh para kru yang sebagian besar tidak memiliki latar belakang profesional di bidang perfilman. Mereka belajar secara otodidak dan berusaha menciptakan sebuah karya yang berkualitas.


“Untuk divisi kami masih belum menentukan bang, karna ini murni film atas kerjasama tim, mulai dari scrip dan dialog kami fikirkan bersama, karena di antara sekian dari kami tidak ada basic sama sekali di bidang ini, murni belajar secara otodidak,” terang Panji saat diwawancarai headline NTB, 12/3/2025


Proses produksi film ini memakan waktu sekitar dua tahun, dikarenakan seluruh tim memiliki pekerjaan masing-masing. Jadwal syuting yang tidak teratur menjadi tantangan utama dalam proses produksi ini. Kendati demikian, semangat dan dedikasi mereka membuahkan hasil yang memuaskan.


Film ini mengisahkan tentang seorang pemuda miskin yang ingin melamar kekasihnya. Namun, ibunda sang kekasih menolak dan membenci pemuda tersebut karena status ekonominya. Frustrasi dengan situasi itu, sang pemuda mencoba melakukan ritual-ritual tertentu agar ibu kekasihnya bisa luluh. Sayangnya, upaya tersebut sia-sia karena sang perempuan telah dijodohkan dengan pria kaya pilihan ibunya.


Tak terima dengan keadaan tersebut, si pemuda melakukan segala cara agar hubungan kekasihnya berantakan, bahkan mengambil langkah nekat demi memastikan perempuan yang dicintainya tidak dimiliki orang lain. Film ini menampilkan pesan moral tentang dampak buruk dari tindakan nekat serta pentingnya mengikhlaskan sesuatu yang sudah menjadi takdir.


Menariknya, film ini diproduksi secara independen dengan menggunakan dana pribadi dari seluruh tim tanpa adanya campur tangan pihak luar. Meskipun tidak ada pencatatan detail mengenai biaya produksi, perkiraan dana yang digunakan mencapai antara 70 juta hingga di bawah 100 juta rupiah, yang sepenuhnya berasal dari hasil patungan.



“Untuk biaya produksi pure menggunakan dana pribadi tanpa campur tangan dari pihak manapun. Untuk biaya produksi kami gak prnah catat karena kalaupun di catat sekitar diatas 70 juta tapi masih di bawah 100jt, Untuk biaya produksi dari patungan bang,” ungkap Panji.


Pengambilan gambar dilakukan di Kecamatan Sambelia Lombok Timur dan beberapa lokasi ikonik seperti Pohon Purba Labuhan Lombok. Yang lebih membanggakan, seluruh pemeran dan kru yang terlibat dalam produksi film ini merupakan warga asli Desa Sambelia.


Film ini membawa pesan kuat mengenai pentingnya saling menghargai sesama manusia, karena kita tidak pernah tahu bagaimana perkataan buruk bisa berdampak pada orang lain. Selain itu, film ini juga mengajarkan bahwa masih banyak cara menyelesaikan masalah tanpa harus menempuh jalur mistis seperti santet atau seher. Pada akhirnya, hanya akan ada penyesalan bagi mereka yang memilih jalan tersebut.


Tim produksi berharap bahwa film ini dapat menjadi motivasi bagi pemuda kreatif lainnya untuk terus berkarya, meskipun dengan keterbatasan sumber daya. Mereka ingin menunjukkan bahwa meskipun berasal dari pelosok desa, tetap memungkinkan untuk menghasilkan karya yang diapresiasi oleh masyarakat luas.


Respon masyarakat terhadap "The Vengeance of Seher" sangat luar biasa. Meskipun saat ini apresiasi lebih banyak terlihat di media sosial, namun hal itu menunjukkan bahwa film ini berhasil menarik perhatian dan mendapatkan tempat di hati masyarakat, khususnya di Sambelia.


“Untuk respon masyarakat mungkin skrng masih terlihat di sosial media saja karena filmnya baru tayang tadi malam..respon sangat luar biasa dan apresiasi yang luar biasa dari masyarakat sambelia," tambah Panji.


Film ini diperankan oleh sejumlah talenta lokal, antara lain Oleng, Nicky Onefive, Oktora Panjisswara, Leni Yulianti, Gagas Fagiara Gamarsese, Zora Bagusty, Qinara, Bq. Hidayat, Iq. Taman, Amaq Pardi, Amaq Roni, dan Ozil.


Dengan pencapaian luar biasa ini, diharapkan film "The Vengeance of Seher" bisa terus berkembang dan menjadi inspirasi bagi sineas muda di Indonesia untuk berani berkarya, meski dengan keterbatasan yang ada.